Berteman saat dewasa bukanlah hal gampang, apalagi dalam lingkungan profesional. Masing-masing orang punya peran, tanggung jawab, dan tingkat kenyamanan yang berbeda saat bersosialisasi di tempat kerja, jadi lebih sulit untuk menjalin pertemanan secara alami. Namun, bukan berarti pertemanan di tempat kerja tak layak dicoba - pertemanan di tempat kerja bisa sangat bermanfaat secara pribadi dan profesional.
Tempat kerja menjadi salah satu lingkungan terbaik dalam menjalin hubungan yang bermakna. Lagipula, kamu menghabiskan cukup banyak waktu bersama rekan kerja, jadi tempat ini sangat cocok untuk membangun hubungan yang bisa meningkatkan karir dan kehidupan pribadimu. Jika pendekatannya tulus dan profesional, pertemanan ini bisa menciptakan pengalaman kerja sehari-hari jadi lebih memuaskan dan nyaman. Inilah pentingnya mengelola hubungan di tempat kerja secara efektif, baik untuk kesejahteraan pribadi maupun kesuksesan profesional.
Namun, bagaimana cara mewujudkan hubungan ini? Dalam artikel ini, kami akan memandumu melalui beberapa tips untuk membantumu membangun hubungan yang kuat dengan rekan kerja dan beberapa tips untuk mengatasi konflik di tempat kerja.
Pentingnya menjalin hubungan di tempat kerja
Kuatnya hubungan di tempat kerja sangat penting dalam kesuksesan karir. Mengingat sebagian besar waktu kita dihabiskan di tempat kerja, hubungan yang bermakna mampu meningkatkan kepuasan kerja, kerjasama, dan kesejahteraan secara menyeluruh. Penelitian membuktikan bahwa karyawan yang menjalin hubungan pertemanan dengan rekan-rekannya akan semakin terlibat, menciptakan produktivitas lebih tinggi dan tingkat turnover karyawan jadi lebih rendah. Pertemanan di tempat kerja membuka pintu bagi pertumbuhan karir melalui bimbingan, kesempatan menjalin relasi, dan wawasan industri. Inilah pentingnya mengelola relasi di tempat kerja untuk memastikan hubungan ini tetap bermanfaat dan profesional.
Selain menaikkan semangat kerja, pertemanan di tempat kerja juga mendorong inovasi dan ketahanan mental. Rekan kerja terpercaya membantu memberi masukan untuk ide-ide baru, membantu mengatasi tantangan, dan menawarkan feedback membangun. Support system yang kuat di tempat kerja memberi dukungan emosional saat menjalani pekerjaan penuh tekanan dan merayakan keberhasilan. Menyadari pentingnya hubungan di tempat kerja menumbuhkan budaya kerjasama, kemampuan beradaptasi, dan kesuksesan jangka panjang.
Cara membangun skill menjalin relasi: Tips praktis menjalin pertemanan di tempat kerja
Berteman di tempat kerja tak perlu terkesan dipaksakan atau canggung-interaksi kecil tiap hari justru sering kali membangun hubungan yang nyata. Sapaan hangat, canda gurau, atau obrolan singkat di dapur bisa sangat membantu dalam membentuk pertemanan di tempat kerja. Selain obrolan santai, tahu cara membangun skill menjalin relasi juga bisa membantu menciptakan hubungan profesional dan personal yang bermakna.
Entah itu membaca isyarat sosial, berinisiatif, atau terlibat aktif dalam acara-acara perusahaan, ada banyak cara untuk menjalin hubungan dengan rekan kerja secara alamiah. Kuncinya ada pada niat dan menjaga agar pertemanan yang tulus berkembang seiring berjalannya waktu melalui rasa saling menghormati dan berbagi pengalaman. Simak beberapa cara termudah dalam memulai menjalin relasi:
- Mudah didekati: Perlihatkan sikap terbuka, tersenyum, dan hangat dalam berinteraksi.
- Pahami isyarat sosial: Ketahui saat seseorang terbuka untuk ngobrol atau sedang fokus pada pekerjaannya.
- Ambil inisiatif: Ajak rekan kerja menikmati kopi, makan siang, atau mengobrol di sela-sela rapat.
- Manfaatkan relasi strategis: Hadiri acara perusahaan, proyek antar tim, dan meetup industri untuk menjalin hubungan dengan rekan kerja.
- Follow up (tindak lanjuti): Tinjau kembali obrolan sebelumnya, ingat informasi penting, dan tanyakan kembali secara berkala.
Cara tingkatkan skill kamu dalam mengobrol: Atasi kecemasan sosial dan tips bagi para introvert
Merasa seperti orang asing saat bersosialisasi, enggan berkontak mata, atau segan terlibat dalam obrolan-kalau kamu merasa seperti itu, kamu tidak sendirian. Kecemasan sosial bisa terasa berat, mencegahmu menikmati pengalaman sosial secara maksimal. Kabar baiknya mengatasi kecemasan sosial itu bisa dilakukan, dan kamu sudah mengambil langkah pertama dengan mempelajari topik ini.
Kami akan membahas strategi dan wawasan praktis untuk membantumu menghadapi situasi sosial dengan penuh percaya diri dan mudah, memastikan kamu menjalin hubungan yang bermakna tanpa stres. Baik dalam urusan kerja, pertemuan santai, atau malah kegiatan sosial perusahaan, ini semua soal menemukan cara yang tepat untuk mengatasi rasa cemasmu.
Di bawah ini ada beberapa ide untuk membantumu meringankan kecemasan sosial secara bertahap untuk menjalin hubungan yang bermakna dengan orang lain:
- Mulai dari hal kecil: Awali dengan sapaan santai atau membahas pengalaman bersama (misalnya, “Pertemuan tadi seru, ya?“)
- Siapkan pembuka obrolan: Siapkan beberapa topik obrolan seperti hobi, tren industri, atau rencana akhir pekan.
- Maksimalkan interaksi empat mata: Fokuslah pada obrolan mendalam secara individu ketimbang kelompok besar.
- Manfaatkan latar sosial terstruktur: Ikuti komite kerja, kelompok minat, atau kegiatan tim yang santai agar lebih mudah berinteraksi.
- Manfaatkan komunikasi digital: Gabung di channel Slack, thread email, atau LinkedIn untuk interaksi lebih terarah.
- Santai saja: Pertemanan memakan waktu––langkah kecil tetaplah sebuah kemajuan!
Mengelola hubungan di tempat kerja: Seimbangkan pertemanan dan profesionalisme
Menavigasi dinamika di tempat kerja bisa terasa sulit, apalagi kalau harus menyeimbangkan antara pertemanan dan profesionalisme. Walau menjalin hubungan yang tulus dengan rekan kerja bisa meningkatkan kerjasama tim dan kepuasan kerja, namun sangat penting juga tetap menjaga rasa menghormati dan profesionalisme.
Yuk, simak tips berikut ini agar hubungan di tempat kerja kamu tetap bermanfaat dan profesional:
- Menyeimbangkan antara profesionalisme dan pertemanan: Buat batasan jelas antara pertemanan dan peran profesionalmu.
- Belajar melatih kesadaran diri dan akuntabilitas: Apa mereka menyikapi kritik yang membangun tanpa rasa sakit hati? Atau bisa jadi mereka mengharapkan perlakuan istimewa?
- Perjelas peran: Sampaikan kewajiban pekerjaan merupakan prioritas di atas pertemanan.
Melewati batas antara persahabatan dan profesionalisme
Punya hubungan dekat dengan rekan kerja juga berisiko. Misalnya, batasan seputar akuntabilitas bisa terlihat tidak jelas saat pertemanan tumpang tindih dengan tanggung jawab profesional, dimana hal ini bisa dianggap sebagai pilih kasih dan bias.
Hal ini melibatkan pemahaman apakah rekan kerja menanggapi kritik yang membangun tanpa rasa sakit hati atau mengharapkan perlakuan istimewa. Sangat penting menjaga keseimbangan untuk memastikan pertemanan di tempat kerja tetap positif dan profesional, sekaligus meminimalkan potensi ketegangan dan konflik.
Lebih jelasnya, Pelatih Eksekutif Naluri, Fazilah Yusof, memberikan beberapa contoh di bawah ini:
Skenario #1: Pilih kasih atau persepsi bias
Contoh: Atasan menugaskan pekerjaan atau promosi penting kepada teman dekatnya tanpa mempertimbangkan kandidat lain dengan kualifikasi yang sesuai, akibatnya semangat kerja dan kepercayaan di dalam tim menurun.
Apa akibatnya: Kalau manajer atau ketua tim terlalu dekat dengan rekan kerja tertentu, hal ini bisa menimbulkan persepsi pilih kasih-mengarah pada ketidaksukaan orang lain. Anggota tim mungkin merasa tidak dianggap atau yakin pengambilan keputusan didasari oleh hubungan pribadi dan bukan karena prestasi.
Skenario #2: Sulitnya meminta pertanggungjawaban teman
Contoh: Seorang manajer segan menyampaikan umpan balik membangun untuk teman dekat dalam tim, membiarkan kinerja yang buruk terus berlanjut tanpa kendali-berdampak pada efisiensi tim dan hasil secara menyeluruh.
Apa akibatnya: Kalau teman di tempat kerja gagal memenuhi tuntutan profesional, menyikapi kinerja yang buruk atau perilaku tercela bisa menjadi sangat tidak nyaman. Menghindari obrolan sensitif bisa menurunkan produktivitas dan menimbulkan rasa ketidaksukaan dari orang lain yang memegang standar kerja berbeda.
Kalau kamu butuh panduan selengkapnya soal cara berkomunikasi dan menentukan batasan yang jelas dengan rekan kerja, simak beberapa ungkapan ini:
1. Jika ada rekan kerja ingin membahas masalah pribadi, namun kamu lebih memilih tetap bersikap profesional: “Selama rapat, yuk, kita coba tetap fokus pada topik pekerjaan agar suasana tetap profesional.”
2. Jika ada teman kerja yang menyampaikan masukan untukmu, namun kamu menganggapnya personal: “Aku ingin kamu tahu kalau masukan ini menyangkut pekerjaan dan bukan urusan pribadi. Pertemanan kita penting bagiku, demikian pula menjaga standar profesional.”
3. Jika ada rekan kerja yang meminta bantuan karir namun membuatmu kurang nyaman: “Aku mau memastikan kalau kita bersikap adil ke seluruh tim, jadi aku akan menugaskan pekerjaan sesuai dengan skill dan ketersediaannya.”
4. Jika ada rekan kerja yang curhat soal pekerjaan, namun kamu ingin menghindari hal-hal negatif: “Sebagai teman, aku mendukungmu 100%, namun sebagai rekan kerja, aku harus pastikan kita semua memenuhi kewajiban kerja kita.”
Mengelola hubungan di tempat kerja: Mengubah konflik menjadi kerjasama
Konflik memang bagian alami dari setiap hubungan, baik hubungan pribadi maupun profesional. Ketimbang menghindarinya, belajar mengelola konflik dengan efektif justru bisa mengubah situasi negatif menjadi peluang bertumbuh. Dari kesalahpahaman hingga perselisihan yang serius, menangani konflik bisa menumbuhkan hubungan yang lebih sehat dan produktif.
Pola pikir baik yang harus dimiliki yaitu memahami tidak ada strategi tunggal atau khusus untuk menangani konflik. Kami membuat daftar beberapa strategi praktis terkait resolusi konflik dan cara mengubah tantangan menjadi batu loncatan dalam mencapai kesuksesan.
Mengatasi masalah lebih dini
Sangat mudah menghindari obrolan sensitif, apalagi di tempat kerja. Namun, menutupi hal tersebut justru akan memperburuk masalah dan menciptakan celah munculnya ketidaksukaan. Praktik terbaik ialah dengan bersikap lugas dan saling menghormati saat membahasnya. Hal ini memudahkan kalian berdua untuk saling mempelajari perspektif dan gaya kerja masing-masing.
Tetap profesional
Kadangkala, menyelesaikan konflik bisa terasa sengit, dan penting sekali menjaga pikiran tetap jernih dan tenang. Lagipula, penyelesaian konflik ini dilandasi dengan niat yang baik dan untuk mencapai hasil yang baik. Tekankan kembali dirimu untuk tetap bersikap profesional dengan fokus pada fakta dan perilaku, bukannya menyerang personal. Tujuan akhir yang ingin dicapai yaitu menemukan solusi, bukannya saling melukai perasaan satu sama lain.
Kenali saat pertemanan di tempat kerja tidak berjalan dengan baik
Terkadang, pertemanan di tempat kerja bisa memburuk meski sudah berusaha sebaik mungkin. Di saat-saat seperti ini, luangkan waktu untuk merefleksikan pengaruh pertemanan pada pekerjaanmu. Mungkin batasanmu dilanggar, atau orang itu selalu meminta bantuan. Jika pertemanan ini terus memicu ketegangan, mungkin lebih baik membuat jarak antara interaksi profesional dan pribadi kamu.
Inilah yang disarankan oleh Pelatih Eksekutif Naluri, Fazilah Yusof, saat menangani konflik di tempat kerja:
1. Gunakan kalimat “Aku”: Mengutarakan kekhawatiran tanpa menuduh akan mendorong penyelesaian masalah yang positif.
- Contoh kalimat: “Aku merasa terabaikan kalau...“, bukan “Kamu mengabaikanku.”
2. Berlatih mendengarkan secara aktif: Kuncinya ialah memperjelas maksudmu dengan empati untuk mencoba memahami perspektif orang lain. Hal ini membantu dalam menemukan titik temu dan mencapai resolusi bersama.
- Contoh kalimat: “Aku rasa ada salah paham dalam penyampaian pesanku. Maksudku [menjelaskan], dan aku menghargai kerjasama kita. Ayo samakan pendapat kita soal cara melangkah maju bersama.”
3. Gunakan komunikasi langsung namun profesional untuk menetapkan batasan: Hal ini menunjukkan profesionalisme dan kepercayaan diri. Hal ini juga mendorong rekan kerja untuk menghargai dan mengakui kebutuhan serta keterbatasanmu.
- Contoh kalimat: “Aku menganggap pertemanan dan kerjasama kita ini penting. Di waktu yang sama, aku harus tetap menyelesaikan tugasku tepat waktu. Ayo cari cara untuk saling mendukung satu sama lain sambil tetap menjaga tanggung jawab pekerjaan kita.”
Menjaga hubungan pertemanan di tempat kerja
Kini selepas kamu mempelajari cara menjalin pertemanan, kamu juga perlu mempelajari cara menjaganya. Sama seperti hubungan lainnya, menjaga pertemanan di tempat kerja butuh usaha. Datang ke kantor setiap hari dan ikut serta dalam interaksi di luar pekerjaan seperti makan siang atau kegiatan sosial perusahaan juga bisa membantu memperkuat ikatan ini.
Hadir menemani rekan kerja merupakan cara yang baik untuk menunjukkan rasa saling mendukung dan menyemangati. Rayakan keberhasilan satu sama lain, tawarkan bantuan selama masa-masa sulit, dan dukung pertumbuhan karir sembari mempererat pertemananmu.
Jika kamu merasa nyaman, kamu juga bisa mencari peluang untuk menjalin hubungan dengan rekan kerja di luar pekerjaan. Hal ini bisa berupa kegiatan olahraga atau makan malam bersama sepulang kerja. Interaksi informal ini membuka peluang mengenal rekan kerjamu lebih dekat dan membangun hubungan yang lebih erat.
Kesimpulan
Hubungan di tempat kerja tersehat ialah hubungan yang menguatkanmu dan memberi dukungan tanpa adanya prasangka. Jika kamu masih bertanya-tanya haruskah kamu punya teman di tempat kerja, jawabannya adalah Ya. Pertemanan di tempat kerja bisa - dan harus - berkembang di tempat kerja, namun hanya jika keduanya sama-sama berkomitmen untuk menentukan batasan-batasan dan karir mereka. Akhirnya, hubungan di tempat kerja adalah aset, bukan beban.
Jika kamu mencari strategi lainnya untuk menyeimbangkan antara pekerjaan, kehidupan, dan kesejahteraan, jelajahi situs web Naluri di mana kamu bisa terhubung dengan pelatih karir Naluri dalam sesi pelatihan pribadi. Ambil alih kendali kesehatan karirmu hari ini.