Penyakit kronis semacam diabetes, hipertensi, dan gangguan kardiovaskular kian marak di kalangan karyawan di Asia, sehingga menaikkan angka ketidakhadiran, tingkat absensi, dan biaya perawatan kesehatan. Dengan inflasi medis di kawasan Asia Pasifik yang diperkirakan mencapai 12,3% pada tahun 2025, perusahaan makin mengutamakan tunjangan terpadu dan solusi kesejahteraan dalam pengelolaan biaya dan peningkatan kesehatan karyawan.
Bagi pekerja di bidang SDM, dimana peran mereka dalam membina kesejahteraan tenaga kerja kian meluas, panduan ini menyajikan roadmap praktis dalam menangani manajemen penyakit kronis di tempat kerja. Panduan ini memuat wawasan dan rekomendasi yang mudah ditindaklanjuti untuk merancang dan mewujudkan program-program yang mendukung lingkungan kerja lebih sehat dan menunjang kesehatan karyawan jangka panjang.
Dampak penyakit kronis di tempat kerja
Penyakit kronis, atau penyakit tidak menular (PTM), ialah kondisi kesehatan jangka panjang yang berkembang bertahap dan menuntut perawatan berkelanjutan. Misalnya diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan obesitas, semuanya memerlukan pengelolaan yang matang untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Naiknya prevalensi penyakit kronis di kalangan karyawan berdampak besar bagi organisasi. Di antaranya meliputi:
- Kenaikan biaya perawatan kesehatan: Kondisi kronis menyumbang sebagian besar pengeluaran perawatan kesehatan perusahaan, seperti hipertensi, stres, dan inaktivitas menjadi pemicu biaya utama.
- Hilangnya produktivitas: Penyakit kronis yang tidak dirawat dengan baik akan memperbesar angka absensi dan tingkat kehadiran, menurunkan efisiensi tenaga kerja secara menyeluruh.
- Pengaruh budaya perusahaan: Kesehatan yang buruk cenderung berujung pada rendahnya semangat kerja, stres, ketidakpuasan kerja, dan tingginya angka pergantian karyawan.
Model kerja hybrid dan gaya hidup tidak aktif makin menambah risiko karyawan terkena kondisi kesehatan kronis—sebanyak 46% karyawan di Asia melaporkan kurangnya aktivitas fisik per minggu, menurut studi Naluri tahun 2024. Generasi muda berisiko lebih tinggi, dengan 49% Gen Z dan 45% milenial melaporkan kurangnya aktivitas, dibandingkan dengan 33% Gen X.
Jadi, walau kerja remote terbukti produktif bagi banyak karyawan, namun hal ini juga membawa tantangan baru dalam mengelola penyakit kronis.
Memahami manajemen penyakit kronis
Manajemen penyakit kronis (Chronic Disease Management atau CDM) merupakan pendekatan proaktif dan terkoordinasi untuk mencegah, memantau, dan mengelola kondisi kesehatan seiring berjalannya waktu. Hal ini termasuk pemeriksaan dini, pengobatan efektif, dan intervensi gaya hidup sehat untuk mengurangi gejala dan komplikasi.
Perusahaan memegang peranan penting dalam mendorong CDM yang efektif dengan penyediaan program kesehatan yang menawarkan sumber daya, insentif, dan tunjangan untuk mendorong gaya hidup yang lebih sehat dan peningkatan akses pada perawatan.
Tujuan manajemen penyakit kronis di tempat kerja
Program manajemen penyakit kronis (CDMP) yang diterapkan secara tepat akan memperkuat daya tahan tenaga kerja dan mewujudkan tempat kerja yang lebih terlibat. Program-program ini bermanfaat dalam jangka panjang dengan berfokus pada tujuan-tujuan utama ini:
- Meningkatkan kondisi kesehatan: Mengelola kondisi kronis mampu menaikkan kualitas hidup karyawan serta mengurangi komplikasi dan rujukan ke rumah sakit.
- Mengurangi dampak ekonomi: Perawatan proaktif membantu mengurangi klaim medis berlebih dan biaya perawatan kesehatan darurat.
- Menaikkan keterlibatan dan produktivitas: Karyawan yang lebih sehat mengurangi hari sakit, bekerja lebih efektif, dan meningkatkan dinamika tim.
- Menumbuhkan budaya tempat kerja yang suportif: Mendorong kesehatan karyawan akan membangun kepercayaan, loyalitas, dan budaya sadar kesehatan di dalam organisasi.
5 prinsip utama manajemen penyakit kronis
CDMP yang unggul dibentuk di atas prinsip-prinsip utama yang bukan hanya mengatasi masalah kesehatan secara langsung, namun juga menjadi dasar bagi kesejahteraan jangka panjang karyawan.
1. Pencegahan dan intervensi dini
Mencegah penyakit kronis sering kali lebih mudah dan lebih hemat biaya ketimbang menangani atau mengobatinya. Pemeriksaan kesehatan secara teratur dan akses ke pemeriksaan kesehatan bisa membantu mengenali faktor risiko dini seperti tekanan darah tinggi atau kolesterol tinggi dan mencegahnya sejak dini.
2. Rencana perawatan personal
CDMP yang efektif fokus pada perawatan individual yang menangani faktor kesehatan fisik, emosional, dan sosial. Partisipan bisa menerima pelatihan tatap muka atau akses ke platform digital guna melacak kemajuan mereka dan menyesuaikan rekomendasi secara real time. Pendekatan khusus ini menjamin adanya perawatan yang relevan, efektif, dan berkelanjutan bagi setiap karyawan.
3. Kolaborasi multidisiplin
Perawatan menyeluruh butuh masukan dari berbagai ahli. Mulai dari tenaga medis profesional, pelatih kesehatan, dan tim SDM yang mampu bekerja sama dalam menyediakan dukungan menyeluruh bagi karyawan. Bermitra dengan penyedia solusi kesehatan digital seperti Naluri juga memudahkan organisasi untuk meningkatkan program mereka tanpa mengorbankan kualitas.
4. Pemantauan berkelanjutan dan wawasan berbasis data
Keberhasilan program harus melacak kesehatan, partisipasi, dan hasil kerja karyawan untuk memastikan relevansi dan efektivitasnya. Pemeriksaan rutin, kuesioner kesehatan, dan pemantauan real-time memudahkan tim SDM mengenali potensi faktor risiko dan penyesuaian intervensi berdasarkan analisis data yang sedang berlangsung.
5. Pendidikan dan pemberdayaan karyawan
Saat karyawan diberdayakan dengan pengetahuan dan sumber daya dalam mengelola kesehatan mereka, mereka cenderung akan menerapkan kebiasaan positif yang berkelanjutan. Mengadakan workshop literasi kesehatan secara rutin seputar nutrisi, olahraga, dan manajemen stres sangat penting untuk menumbuhkan budaya tempat kerja di mana karyawan mengambil tanggung jawab atas kesejahteraan mereka.
Menciptakan program manajemen penyakit kronis yang efektif
Jika organisasi kamu ingin menerapkan CDMP untuk tenaga kerja, berikut ini lima langkah yang bisa membantumu mengembangkan program yang efektif:
Langkah 1: Menilai kebutuhan kesehatan karyawan
- Lakukan survei anonim, penilaian kesehatan, dan analisis klaim untuk mengenali kebutuhan spesifik karyawan di tempat kerjamu.
- Fokus pada penanganan penyakit kronis paling umum atau masalah kesehatan yang berdampak pada pekerja di tempat kerjamu.
- Pertimbangkan demografi dan tantangan unik pekerja di tempat kerjamu, seperti usia, jenis kelamin, dan lingkungan kerja.
Langkah 2: Rencanakan dan rancang intervensi
- Tetapkan tujuan jelas dan terukur yang mendukung kesejahteraan karyawan dan tujuan organisasi, seperti menurunkan tingkat ketidakhadiran atau meningkatkan penanda biometrik seperti tekanan darah.
- Kerja sama dengan tenaga medis dan ahli kesehatan untuk memilih intervensi terbaik bagi pekerja di tempat kerjamu, seperti pelatihan kesehatan, manajemen pengobatan, atau program manajemen diri.
- Sertakan jalur perawatan modular untuk fleksibilitas dalam menangani berbagai kondisi kronis.
Langkah 3: Tumbuhkan dukungan kepemimpinan
- Sampaikan kasus bisnis dalam berinvestasi di bidang kesejahteraan karyawan dan potensi laba atas investasi (ROI) bagi organisasi.
- Peroleh dukungan kepemimpinan senior untuk memastikan sumber daya yang diperlukan dan dorong para pemimpin untuk menjadi teladan melalui partisipasi aktif.
- Libatkan pimpinan dalam proses perencanaan untuk memperkuat komitmen dan memastikan keselarasan dengan tujuan organisasi.
Langkah 4: Menerapkan dukungan multi-touchpoint
- Padukan alat bantu digital, seperti aplikasi pelacakan kemajuan dan pelatihan digital, beserta inisiatif tatap muka seperti pemeriksaan kesehatan, workshop, dan sesi dukungan rekan kerja.
- Susun rencana komunikasi untuk mendorong CDMP dan informasikan kepada karyawan mengenai ketersediaan sumber daya melalui berbagai saluran seperti e-mail, aplikasi perpesanan grup, atau jejaring sosial perusahaan.
- Ajak karyawan memanfaatkan sumber daya dukungan dengan memadukannya ke dalam kebijakan perusahaan atau berikan insentif untuk berpartisipasi.
Langkah 5: Ukur dan optimalkan efektivitas program
- Lacak indikator kinerja utama (key performance indicators atau KPI), seperti tingkat partisipasi, hasil kesehatan, dan pengurangan klaim, untuk mengukur efektivitas program kamu.
- Kumpulkan masukan dari karyawan secara teratur untuk terus meningkatkan desain dan pelaksanaan program.
- Pertimbangkan tolok ukur eksternal dan praktik terbaik dalam rangka memastikan program kamu tetap kompetitif dan efektif.
CDMP jangka panjang vs jangka pendek: Mana yang paling berhasil?
Saat merancang strategi CDM, pemimpin SDM juga harus memutuskan antara program jangka panjang, program jangka pendek, atau kombinasi keduanya.
Walau program jangka panjang biasanya lebih efektif untuk mengelola penyakit kronis, program jangka pendek mungkin lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan organisasi tertentu.
Pada akhirnya, pendekatan terbaik akan bergantung pada kebutuhan dan tantangan unik organisasi kamu, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti:
- Tingkat keparahan dan jenis kondisi kronis yang dialami karyawan di tempat kerjamu
- Anggaran dan ketersediaan sumber daya organisasi kamu
- Preferensi karyawan mengenai fleksibilitas atau jadwal yang terstruktur
- Menentukan prioritas antara tujuan jangka panjang atau kebutuhan mendesak
Bermitra dengan penyedia CDMP berpengalaman seperti Naluri mampu membantu para pemimpin SDM dalam menavigasi kompleksitas CDM dan menyeleksi pendekatan yang paling sesuai untuk organisasi mereka. Dengan memadukan keahlian dari mitra tepercaya dengan program khusus yang memenuhi kebutuhan individu dan organisasi, tim SDM mampu meningkatkan kesejahteraan karyawan, memaksimalkan alokasi sumber daya, dan menghemat biaya perawatan kesehatan sekaligus mendorong peningkatan penting dalam kinerja bisnis.
Untuk informasi selengkapnya mengenai cara Naluri mampu mendukung kesehatan dan kesejahteraan karyawan di tempat kerjamu, jelajahi CDMP kami, atau hubungi tim penjualan kami.