Skip to content
March Article Featured Image
Naluri6 min read

Kesejahteraan Karyawan Holistik: Menyeimbangkan Perawatan dan Biaya di Tempat Kerja Modern

Di tahun 2024, lebih dari 60% perusahaan di Asia Pasifik melaporkan adanya stabilitas tingkat kehadiran di kantor, menandakan meluasnya adopsi model kerja yang fleksibel dan hybrid sebagai standar yang baru. Pengalihan ini bukan sekadar menentukan kembali lokasi kerja karyawan, namun juga membentuk kembali prioritas dan ekspektasi mereka terhadap kesejahteraan.

Agar mampu mempertahankan dan menarik talenta terbaik, perusahaan perlu memikirkan kembali dan beradaptasi dengan strategi kesejahteraan mereka dalam memenuhi kebutuhan yang terus berkembang ini, sembari terus memperhatikan batasan anggaran.

Cara kerja hybrid membentuk kembali prioritas kesejahteraan 

Era kerja hybrid sudah membuka beragam peluang baru bagi karyawan dan perusahaan, mulai dari meniadakan perjalanan pulang pergi yang memakan waktu hingga pembentukan tim yang melampaui batas area kerja.

Namun, seiring dengan manfaat ini, muncul pula tantangan dan permasalahan baru bagi kesejahteraan karyawan:

  • Kaburnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

Pekerjaan remote menawarkan fleksibilitas namun sering kali mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang membuat karyawan lebih sulit untuk lepas. Kesulitan beralih ini sudah menjadi faktor penting terjadinya kelelahan, dengan 83% karyawan di Asia melaporkan kelelahan pada tahun 2024. Di antara penyebab utamanya yaitu keletihan dan buruknya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

  • FOMO dan kelelahan digital

Adanya tuntutan “selalu aktif” dari saluran komunikasi digital membuat para karyawan merasa khawatir akan ketinggalan informasi atau peluang penting. Fenomena di tempat kerja ini, mirip dengan FOMO (takut ketinggalan) yang biasanya dikaitkan dengan media sosial, kini turut andil dalam kelelahan digital di kalangan karyawan.

  • Terisolasi dan tak terhubung

Pekerjaan remote dan hybrid bisa mengurangi interaksi tatap muka, berujung pada rasa kesepian dan risiko kesehatan mental. Survei LinkedIn baru-baru ini menemukan bahwa 26% pekerja profesional di Asia Pasifik kesulitan untuk bekerja dari rumah atau remote, dengan alasan kesulitan akses ke sumber informasi dan komunikasi tim. Sebanyak 20% juga melaporkan adanya perasaan tak terhubung dengan budaya perusahaan dan organisasi mereka. 

Selain tantangan-tantangan tersebut, karyawan kian mencari tunjangan kesehatan personal, dimana 63% karyawan bersedia menukar tunjangan yang ada saat ini dengan manfaat yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Hal ini menjadi dilema tersendiri bagi perusahaan: Bagaimana mereka menawarkan tunjangan fleksibel yang mampu memenuhi beragam latar belakang budaya dan generasi sekaligus mendukung karyawan dalam menavigasi lingkungan kerja yang terus berkembang?

Untuk mengatasinya, perusahaan harus menata ulang kebijakan dan strategi kesejahteraan mereka, dimulai dengan pemahaman yang lebih dalam tentang kesehatan holistik.

Memahami kesehatan karyawan secara holistik

Strategi kesejahteraan yang efektif menyadari adanya interaksi antara beragam aspek kesejahteraan-emosional, finansial, fisik, dan sosial-dan pengaruhnya bagi kesehatan karyawan secara menyeluruh.

Fokus hanya pada satu aspek kesejahteraan saja jarang sekali cukup. Misalnya, workshop manajemen stres yang ditujukan untuk kesehatan emosional takkan mengurangi kelelahan akibat ketidakamanan finansial. Begitu pula suasana kantor ramah lingkungan yang mendukung kesehatan fisik takkan mengatasi perasaan kesepian atau tidak terhubung dengan rekan kerja, padahal hal ini adalah inti dari kesejahteraan sosial.

Dengan mengenali berbagai dimensi kesejahteraan yang saling berhubungan, organisasi bisa lebih efektif dalam memprioritaskan inisiatif dan menyelaraskan upaya mereka dengan kebutuhan karyawan.

Empat pilar kesejahteraan karyawan

1. Kesejahteraan emosional

Kesehatan emosional menjadi fondasi kesejahteraan secara menyeluruh. Karyawan dengan ketahanan mental yang baik akan lebih siap menjalani pekerjaan dan menghadapi tantangan pribadi.

Tingkat stres tinggi atau kesehatan emosional buruk bisa menimbulkan gejala fisik seperti kelelahan atau kekebalan tubuh yang melemah dan malah menambah permasalahan finansial melalui penurunan produktivitas dan peningkatan biaya perawatan kesehatan.

Organisasi bisa mendukung kesejahteraan emosional dengan menciptakan tempat kerja yang aman secara psikologis dengan inisiatif seperti:

  • Layanan konseling sesuai permintaan
  • Program mindfulness dan manajemen stres
  • Membina budaya komunikasi dan dukungan yang terbuka  

2. Kesejahteraan finansial

Tekanan keuangan bisa berdampak serius pada kesehatan emosional dan fisik, mengarah pada masalah seperti kecemasan dan terabaikannya tindakan pencegahan. Seiring naiknya gejolak ekonomi, permintaan akan sumber literasi keuangan-seperti kursus manajemen utang dan alat perencanaan pensiun- semakin meningkat.

Namun, masih ada kesenjangan antara kebutuhan karyawan dan prioritas perusahaan. Walaupun 53% karyawan di Asia Pasifik mencari dukungan lebih untuk kesejahteraan finansial, hanya 18% perusahaan yang menjadikannya sebagai prioritas.

Untuk menjembatani kesenjangan ini, organisasi bisa menawarkan:

  • Akses ke penasihat keuangan untuk pelatihan personal
  • Workshop pendidikan terkait penganggaran, manajemen utang, dan perencanaan pensiun
  • Skema bantuan keuangan karyawan seperti pinjaman atau bantuan keuangan perawatan anak   

3. Kesejahteraan fisik

Kesehatan fisik sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan emosional. Olahraga teratur bisa membantu mengurangi kecemasan dan depresi, sementara masalah kesehatan kronis sering kali menambah risiko tantangan kesehatan mental.

Faktanya, penelitian Naluri pada tahun 2024 membuktikan bahwa 73% karyawan dalam kondisi kesehatan fisik yang buruk juga berisiko tinggi terhadap kesehatan mental. Sebaliknya, 61% dari karyawan yang kondisi kesehatan fisiknya sangat baik cenderung memiliki risiko kesehatan mental yang lebih rendah.

[BI] Employee mental health risk by self-reported physical health

Keterkaitan yang kuat ini menyoroti pentingnya menjaga kesehatan fisik sebagai pilar utama kesejahteraan secara menyeluruh, dimana bisa didukung melalui berbagai inisiatif seperti:

  • Mengadakan tantangan kesehatan di seluruh perusahaan untuk mendorong aktivitas fisik
  • Menawarkan subsidi kebugaran atau keanggotaan gym
  • Menyediakan atau mempromosikan pemeriksaan kesehatan secara teratur untuk mendukung perawatan pencegahan

4. Kesejahteraan sosial

Hubungan yang kuat membangun ketahanan emosional, sementara isolasi kerap kali memperburuk tantangan kesehatan mental. Adanya dukungan sosial di tempat kerja bisa mendorong pola hidup yang lebih sehat dan menjadi penyangga penting melawan stres, bahkan di lingkungan kerja hybrid.

Untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, perusahaan bisa:

  • Merencanakan kegiatan team building atau acara sosial untuk membina hubungan tatap muka yang bermanfaat.
  • Mengajak rehat kopi virtual atau teman makan siang untuk pekerja remote
  • Menawarkan dukungan untuk kelompok afinitas yang dipimpin oleh karyawan atau program bimbingan

Berbagai pilar yang saling berkaitan, yaitu kesejahteraan emosional, finansial, fisik, dan sosial, menyoroti nilai dari pendekatan yang kohesif dan terpadu pada kesehatan karyawan ketimbang inisiatif terpisah-pisah.

Namun, tantangannya terletak pada menyeimbangkan komitmen ini dengan kebutuhan praktis untuk mengendalikan biaya.

Menyeimbangkan kesehatan karyawan dengan manajemen biaya

Tanpa mengorbankan perawatan, organisasi bisa menyediakan program kesehatan bermutu tinggi dengan cara yang hemat biaya dengan mengadopsi strategi ini:

1. Personalisasi manfaat melalui pendekatan modular

  • Mengapa penting: Berilah karyawan kebebasan untuk memilih tunjangan yang sesuai dengan kebutuhan unik mereka.
  • Cara memulai: Kenalkan rencana ala kafetaria dengan tunjangan fleksibel untuk pilihan khusus.
  • Contoh: Sediakan tunjangan kesehatan dan kebugaran yang bisa dimanfaatkan karyawan untuk keanggotaan gym, sesi pelatihan keuangan, atau layanan kesehatan lain yang mereka pilih.

2. Rangkul solusi kesejahteraan hybrid

  • Mengapa penting: Memanfaatkan alat bantu digital bersama dengan layanan tatap muka untuk pemberian dukungan yang terukur.
  • Cara memulai: Bermitra dengan penyedia layanan kesehatan seperti Naluri yang menawarkan layanan digital dan layanan secara langsung serta penawaran paket kelompok untuk mengoptimalkan pengeluaran.
  • Contoh: Padukan pelatihan kesehatan digital dengan konsultasi di lokasi dan sumber layanan mandiri untuk memberikan dukungan menyeluruh yang terukur secara efektif.

3. Fokus pada perawatan pencegahan dan intervensi dini

  • Mengapa penting: Mengurangi risiko kesehatan jangka panjang melalui tindakan proaktif.
  • Cara memulai: Berinvestasi pada pemeriksaan kesehatan terjangkau dan inisiatif edukasi untuk mempromosikan kebiasaan sehat.
  • Contoh: Tawarkan pemeriksaan kesehatan tahunan dengan potongan harga atau gratis, bersama dengan sumber informasi mengenai nutrisi, kesehatan mental, dan manajemen stres untuk memberdayakan karyawan agar mampu mengendalikan kesehatan mereka.

4. Memanfaatkan data untuk menyempurnakan program

  • Mengapa penting: Manfaatkan data untuk mengenali area berisiko tinggi, optimalisasi inisiatif kesehatan, dan hentikan manfaat yang tidak digunakan.
  • Cara memulai: Lacak tingkat partisipasi, hasil penilaian kesehatan, tingkat kepuasan, dan metrik keterlibatan untuk menyempurnakan penawaran.
  • Contoh: Tergantung pada tujuan program kesejahteraanmu, pantau KPI terkait seperti keterlibatan di perusahaan startup atau retensi di perusahaan yang lebih besar untuk menilai efektivitas program.

5. Membangun budaya kesejahteraan  

  • Mengapa penting: Menciptakan lingkungan yang mendukung agar karyawan merasa nyaman dan sehat.
  • Cara memulai: Perkenalkan penerapan di seluruh perusahaan yang mendorong kebiasaan sehat selama jam kerja.
  • Contoh: Menerapkan rapat sambil berjalan kaki, menyediakan pilihan camilan sehat di kantor, dan mendorong karyawan untuk menjadwalkan waktu istirahat untuk mendorong aktivitas fisik dan istirahat mental.

Masa depan kesejahteraan karyawan: Pendekatan holistik dan seimbang  

Karena pekerjaan hybrid terus membentuk kembali tempat kerja modern, organisasi harus mengembangkan strategi kesejahteraan mereka dalam memenuhi ekspektasi karyawan yang baru sekaligus mengelola biaya. Pendekatan holistik-yang meliputi kesejahteraan emosional, finansial, fisik, dan sosial-memastikan karyawan menerima dukungan yang mereka butuhkan untuk berkembang.

Dengan menyesuaikan manfaat, menerapkan solusi hybrid, mengutamakan perawatan pencegahan, dan memanfaatkan data yang tepat, perusahaan mampu menyediakan program kesehatan yang bermanfaat dan hemat biaya yang meningkatkan ketahanan mental karyawan dan mendorong kesuksesan bisnis jangka panjang.

Ingin merancang program kesehatan yang efektif untuk tim kamu? Baca artikel ini untuk mengetahui semua yang perlu kamu ketahui soal EAP dan faktor-faktor penting yang perlu dipertimbangkan saat mengevaluasi pilihanmu.

You may also like